KEHIDUPAN ZAMAN PRAAKSARA
Kehidupan Zaman Purba
Zaman praaksara merupakan pembabakan
peradaban manusia dalam periode sejarah, yang mana pada saat itu belum
dikenalnya tulisan atau bisa juga disebut dengan zaman nirleka, sehingga
kehidupan manusianya sangatlah sederhana. Dalam pembabakan pada ilmu sejarah
bisa dilihat dari dua cabang ilmu yaitu geologi dan arkeologi
Geologi
adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan, berdasarkan komposisinya,
struktur, sejarah, sifat-sifatnya, dan juga proses pembentukannya, dan orang
yang mempelajari dan mendalami ilmu geologi disebut geolog. Berdasarkan
geologi, zaman praaksara dibagi menjadi 4, ada zaman tertua (Arkaekum),
zaman primer atau zaman hidup tua (Paleozoikum), zaman sekunder atau zaman
hidup pertengahan (Mesozoikum), serta zaman hidup baru (Neozoikum).
Adapun zaman tersebut
ialah sebagai berikut :
a. Arkaekum/Azoicum
Zaman ini merupakan zaman tertua,
kira-kira berlangsung selama 2.500 juta tahun. Pada saat itu, kulit bumi masih
panas, pada zaman ini belum ada kehidupan.
b. Paleozoikum
zaman ini kehidupan mulai muncul. Zaman primer atau zaman hidup
tua ini berlangsung sekitar 340 juta tahun. Pada saat itu, makhluk hidup yang
muncul seperti mikroorganisme, ikan, amfibi, reptil, dan juga binatang-binatang
lain yang tidak bertulang punggung. Di bawah ini adalah gambar makhluk hidup
yang hidup pada zaman Paleozoikum:

Makhluk Hidup Pada Zaman Paleozoikum
(Sumber: shutterstock.com)
c. Mesozoikum
Zaman ini bisa juga disebut zaman sekunder atau pertengahan, kira-kira
berlangsung selama 140 juta tahun. Pada zaman pertengahan ini, jenis reptil
mencapai tingkat yang terbesar, sehingga pada zaman ini sering disebut juga
dengan zaman reptil. Setelah berakhirnya zaman ini, maka muncul kehidupan yang
lain, yaitu jenis burung dan binatang menyusui. Namun, tingkat populasinya
masih sangat rendah.
Sayangnya, pada zaman ini jenis-jenis
reptilnya mulai mengalami kepunahan.

Beberapa Jenis fosil hewan purba yang
pernah hidup di Indonesia (Sumber: sebandung.com)
d. Neozoikum
zaman yang ke 4 ini sering disebut juga
zaman hidup baru. Zaman ini dapat dibedakan menjadi dua zaman, yaitu:
Tersier
atau zaman ketiga
Zaman tersier berlangsung kira-kira selama 60
juta tahun. Zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui
seperti kera.
2)
Kuartier atau zaman keempat
Zaman kuartier ditandai dengan adanya kehidupan
manusia, sehingga zaman ini menjadi zaman terpenting, kemudian dibagi lagi
menjadi dua zaman, yaitu zaman Pleistocen dan Holocen.
a) Zaman
Pleistocen atau Dilluvium berlangsung
kira-kira selama 600.000 tahun. Pada zaman ini ditandai dengan adanya manusia
purba.
b) Zaman
Holocen atau Alluvium berlangsung
kira-kira selama 20.000 tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini.
Zaman ini ditandai dengan munculnya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki
ciri-ciri seperti manusia yang hidup pada zaman modern sekarang.
Ini adalah periodesasi
berdasarkan geologi, sedikit berbeda dengan periodesasi berdasarkan ilmu
arkeologi. Arkeologi
merupakan suatu studi yang sistematik tentang benda-benda kuno sebagai suatu
alat untuk merekonstruksi masa lampau. Arkeologi adalah ilmu tentang
sejarah budaya material. Arkeologi adalah ilmu budaya (manusia) masa lalu
melalui kajian sistematis dari materi data. Sebuah tinjauan sistematis meliputi
penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi artefak.
Pembabakan kehidupan manusia pada masa pra-aksara dibagi menjadi
beberapa zaman berdasarkan teknologi yang digunakan. Sekarang kita bahas berdasarkan
peninggalan arkeologi dapat dibagi sebagai berikut :
a. Zaman Batu Tua
Zaman batu tua disebut juga paleolitikum atau
masa berburu dan meramu. Pada zaman ini, kehidupan manusia masih sangat
tergantung pada alam dan berpindah-pindah (nomaden). Makanan didapat dari
sumber makanan yang ada di sekitar tempat tinggal. Tempat tinggal manusia pada
masa tersebut biasanya dekat dengan sumber air yang berpohon banyak dan
berelief datar. Alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana bentuknya dan
terbuat dari batu atau tulang.
b. Zaman Batu Tengah
Zaman batu tengah disebut juga mesolitikum atau
masa berburu dan meramu tingkat lanjutan. Pada zaman ini, manusia hidup di
gua-gua dan masih berpindah-pindah. Makanan didapat dengan cara berburu
hewan-hewan liar dan buah-buahan dari pepohonan yang ada di hutan. Manusia
masih menggunakan alat-alat terbatas yang terbuat dari batu dan tulang dengan
bentuk yang lebih baik. Sumber daya alam masih mampu memenuhi kebutuhan hidup
manusia.
c. Zaman Batu Baru
Zaman batu baru disebut juga neolitikum atau
masa bercocok tanam. Pada zaman ini, manusia mulai mengenal bercocok tanam
dengan cara berladang dan mereka tinggal sekaligus menetap di dekat
ladang-ladang yang mereka buat, mereka membabat hutan dengan sistem ladang
berpindah. Setelah berkali-kali panen dan kesuburan ladang berkurang, mereka
akan berpindah dan membuka ladang baru di tanah yang masih subur. Pada masa
ini, manusia mulai memelihara hewan ternak dan hidup dalam kelompok-kelompok
besar serta mulai mengenal kepemimpinan secara terbatas. Peralatan yang
digunakan masih terbuat dari batu yang diasah hingga halus dan berbentuk lebih
baik.
d. Zaman Logam
Zaman logam disebut juga masa perunggu dan
besi atau masa perundagian. Pada zaman ini, manusia telah menetap dan mulai
mengenal pembagian kerja berdasarkan keahlian tertentu. Oleh karena itu,
kehidupan masyarakat pada zaman ini telah mengenal adanya pembagian status
berdasarkan jumlah kekayaan yang dimiliki. Manusia pada zaman ini juga telah
mengenal peralatan yang terbuat dari logam tertentu yang mudah didapat seperti
perunggu dan besi.
Jenis-Jenis Manusia Purba dan Ciri-Cirinya
Manusia Purba adalah jenis
manusia pada zaman prasejarah, manusia purba memiliki jenis-jenis dan ciri-ciri
masing-masing dari ciri-ciri tersebut dapat ditemukan jenis manusia purba ini
dan dari Penelitian manusia purba dilakukan dengan mengadakan peneliatian
penggalian wilayah yang diperkirakan sebagai tempat hidup manusia purba.
Penggalian itu menghasilkan temuaberupa sisa-sisa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan
manusia yang sudah membantu (fosil). Fosil tumbuhan, hewan dan manusia itu
ditemukan di lapisan bumi tertentu. Dengan megnetahui umur lapisan bumi, dapat
ditemukan umur fosil. Untuk lebih mengetahui jelas Jenis-Jenis dan Ciri-Ciri
manusia purba Mari lihat penjelasa, dan pembahasan dibawah ini
Jenis-Jenis Manusia Purba dan Ciri-Cirinya
Pada Pembahasan ini, Pertama-tama
akan dibahas Jenis Manusia Purba dan ciri-cirinya di wilayah indonesia dan yang
kedua akan dibahas jenis manusia purba dan ciri-cirinya diluar indonesia
A. Jenis-Jenis Manusia Purba Indonesia dan
Ciri-Cirinya
Penelitian fosil manusia purba di
Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19 Tokoh penelitian manusia purba di
Indonesia adalah Eugene Dubois. Keberhasilannya menemukan fosil atap tengkorak di
Trinil (tahun 1891) menjadi bagian penting dalam sejarah palaeoantropologi.
Peristiwa itu sekaligus mengawali serangkaian penelitian fosil manusia purba di
Indonesia.
- Meganthropus
Palaeojavanicus (Meganthropus Palaeojavanicus: manusia raksasa dari Jawa
kuno)

Fosil manusia purba ini adalah
jenis paling tua yang pernah ditemukan di Indonesia. Penemunya adalah Ralph von
Koenzgswald di Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah dan atas gigi lepas.
Dengan cara stratigrafi diketahui fosil tersebut berada pada lapisan Puçangan.
Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil Megantropus Paleojavanicus
berumur 1-2 juta tahun.
Ciri-ciri Meganthropus Palaeojavanicus
- Berbadan
tegap dengan tonjolan tajam di belakang kepala.
- Bertulang
pipi tebal, dengan tonjolan kening yang mencolok.
- Tidak
berdagu.
- Otot
kunyah, gigi, dan rahang besar dan kuat.
- Makanannya
jenis tumbuh-tumbuhan.
- Pithecanthropus
(Pithecanthropus: Manusia Kera)

Fosil manusia purba jenis
Pithecantropus adalah jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di
Indonesia. Dengan cara stratigrafi, diketahui fosil tersebut berada pada
lapisan Pucangan dan Kabuh. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil
Pithecanthropus amat bervariasi umumya, antara 30.000-2 juta tahun.
Ciri-ciri Pithecantropus
- Tinggi
tubuhnya kira-kira 165 - 180 cm.
- Badan
tegap, namun tidak setegap Meganthropus.
- Tonjolan
kening tebal dan melintang sepanjang pelipis
- Otot
kunyah tidak sekuat Meganthropus.
- Hidung
lebar dan tidak berdagu.
- Makanannya
bervariasi tumbuhan dan daging hewan buruan.
Jenis-Jenis Pithecanthropus
- Pithecanthropus
Mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto)

Fosil manusia purba jenis ini ditemukan oleh Von
Koenigswald di dekat Mojokerto , jawa timur, pada tahun 1936. pada lapisan Pleistosen Bawah. Temuan tersebut
berupa fosil anak-anak berusia sekitar 5 tahun. Makhluk ini diperkirakan hidup
sekitar 2,5 sampai 2,25 juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Mojokertensis
Berbadan tegap, mukanya menonjol ke depan dengan kening yang tebal dan tulang
pipi yang kuat. Fosil berupa tengkorak. Fosil tersebut disebut juga
Pithecanthropus Robustua
b. Pithecanthropus Erectus (manusia kera yang
berjalan tegak)
Fosil manusia purba jenis ini
ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1890 di Trinil, Lembah Bengawan Solo. berasal dari lapisan Plestosen Tengah. Mereka hidup
sekitar satu juta sampai satu setengah juta tahun yang lalu. Pithecanthropus
Erectus berjalan tegak dengan badan yang tegap dan alat pengunyah yang kuat.
Volume otak Pithecanthropus mencapai 900 cc. Volume otak manusia modern lebih
dari 1000 cc, sedangkan volume otak kera hanya 600 cc. Fosil
berupa tulang rahang, bagian atas tengkorak. geraham, dan tulang kaki.
c. Pithecanthropus Soloensis (manusia kera dari
Solo)
Fosil manusia purba jenis ini
ditemukan oleh von Koenigswald dan Openorth di Ngandong dan Sangiran, di tepi
Bengawan Solo, antara tahun 1931 - 1933. Fosil berupa tengkorak dan tulang
kering. Pithecanthropus Soloensis yang bertahan hidup sampai akhir Pleistosen Tengah
adalah Pithecanthropus Soloensis, Fosil pertama ditemukan di Ngandong, di tepi sungai
Bengawan Solo pada sekitar tahun 1931-1934. Para peneliti Pithecanthropus
Soloensis, antara lain von Koenigswald, Oppennorth, dan Ter Haar. Hasil
penemuan Pithecanthropus di lapisan Pleistosen Tengah mempunyai arti penting
karena menghasilkan satu seri tengkorak berjumlah besar dalam waktu singkat
pada satu tempat. Hasil temua itu berupa bagian atap tengkorak, tulang dahi,
fragmen tulang pendinding, dan tulang kering. Dari temuan tersebut, jenis
kelamin, usia, bahkan kapasitas otaknya dapat diukur.
3. Homo (Homo: manusia)
Fosil manusia purba jenis homo
adalah paling muda dibandingkan fosil manusia purba jenis lainnya. Disebut juga
homo Erectus (manusia berjalan tegak) atau Homo Sapiens (manusia cerdas
/bijaksana). Dengan cara stratigrafi, diketahui fosil tersebut berada pada
lapisan Notopurpo. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil Homo amat
bervariasi umurnya, antara 25.000-40.000 tahun.
Ciri-ciri Homo
- Tinggi
tubuh 130 - 210 cm.
- Otak
lebih berkembang daripada Meganthropus dan Pithecanthropus.
- Otot
kunyah, gigi, dan rahang sudah menyusut.
- Tonjolan
kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
- Mempunyaj
ciri-ciri ras Mongoloid dan Austramelanosoid
v Jenis-Jenis
Homo
a. Homo Soloensis (manusia dan Solo)
Fosil manusia purba jenis ini
ditemukan Von Koenigswald dan Weidenrich pada tahun 193-1934 dilembah Bengawan
Solo. Fosil yang ditemuka berupa tengkorak. Dari Volume Otaknya, bukan lagi
manusia kera ( Pithecantropus)
b. Homo Wajakensis (manusia dan Wajak)
Fosil manusia purba jenis ini
ditemukan oleh Dubois pada tahun 1889 di daerah Wajak dekat Tulungagung.
Manusia jenis ini sudah mampu membuat alat-alat dan batu maupun tulang. Mereka
juga telah mengenal cara memasak makanan.
Alat Teknologi Zaman Praaksara
1. Zaman Paleolitikum (Zaman Batu Tua) –
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat awal

Sumber: bebaspedia.com
Zaman ini disebut sebagai zaman batu tua karena pada
saat itu manusia menggunakan alat-alat batu yang masih dibuat secara kasar dan
sederhana. Pada zaman ini manusia hidup secara nomaden atau berpindah-pindah
dalam kelompok kecil (10-15 orang) untuk mencari makanan. Pada zaman ini,
manusia hanya mengenal berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah dan
umbi-umbian), mereka belum mulai memasak atau bercocok tanam. Mereka berlindung
dari alam dan hewan buas dengan tinggal di dalam gua. Pada masa ini, manusia
purba sudah mengenal api.

src:
ikacuplisblog.wordpress.com
Berdasarkan penemuan fosil, jenis manusia purba yang
hidup di zaman paleolitikum, antara lain:
–
Pithecanthropus Erectus
– Meganthropus paleojavanicus
– Homo Erectus
– Homo Soliensis
– Homo Wajakensis
– Homo Floresiensis
Berdasarkan daerah penemuannya, hasil kebudayaan zaman
Paleolitikum dikelompokkan menjadi:
a. Kebudayaan Pacitan
Ditemukan oleh Von Koeningswald pada tahun 1935. Alat
yang ditemukan berupa kapak genggam dan alat serpih yang masih kasar yang
Selain di pacitan, alat-alat juga banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa
Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara).
– Kapak genggam (chopper): alat penetak/pemotong, serupa kapak tapi tidak
bertangkai, diperkirakan merupakan hasil kebudayaan manusia jenis Meganthropus.
– Kapak perimbas (ditemukan juga di Gombong, Sukabumi,
Lahat): untuk merimbas kayu, memahat tulang & sebagai senjata, diperkirakan
merupakan hasil kebudayaan manusia Pithecanthropus.
b. Kebudayaan Ngandong
Alat hasil kebudayaan Ngandong ditemukan di daerah
Ngandong, Ngawi, Jawa Timur. Alat yang ditemukan berupa peralatan yang terbuat
dari tulang dan tanduk rusa, diperkirakan digunakan sebagai alat penusuk,
belati, atau mata tombak.
– Alat dari tulang binatang: alat penusuk/belati, ujung tombak bergerigi,
mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, menangkap ikan.
– Flakes: alat kecil dari batu Chalcedon,
untuk mengupas makanan, berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan
buah-buahan.
2. Zaman Mesolitikum (Zaman Batu Tengah)
– Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut

(Sumber: essay.co.id)
Merupakan peralihan zaman paleolitikum dan neolitikum.
Manusia pendukungnya yaitu bangsa Papua-Melanosoid. Manusia mulai hidup
semi menetap di gua-gua yang disebut Abris Sous Roche. Pada masa ini, laki-laki
berburu dan perempuan tinggal di gua untuk menjaga anak dan memasak. Hasil
budaya yang ditemukan pada zaman mesolitikum, yaitu:
a. Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger ini berasal dari bahasa Denmark,
kjokken yang berarti “dapur” dan modding berarti “sampah”. Kjokkenmoddinger
adalah sampah-sampah dapur berupa tumpukan kulit kerang. Kjokkenmoddinger
ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatera. Penemuan hasil budaya dari
kjokkenmoddinger adalah peeble, kapak genggam, kapak pendek, dan pipisan.
Pipisan merupakan batu penggiling yang digunakan untuk menggiling makanan dan
menghaluskan cat merah yang berasal dari tanah merah. Cat merah ini
diperkirakan digunakan untuk kepentingan religius dan ilmu sihir.
b. Abris Sous Roche
Manusia pada zaman ini manusia purba tinggal di
gua-gua pada tebing pantai yang dinamakan Abris Sous Roche. Hasil budaya yang
ditemukan dari gua-gua tersebut yaitu peralatan dari batu yang telah diasah
serta peralatan dari tulang dan tanduk (banyak ditemukan di gua Lawa, Sampung,
Ponorogo, Jawa Timur, karena itu disebut sebagai Sampung Bone Culture).
Abris Sous Roche juga banyak ditemukan di Besuki, Bojonegoro, dan Sulawesi
Selatan.

Sumber:
sejarahlengkap.com
Hasil budaya lain yang menonjol yaitu lukisan gua
berupa cap tangan yang diyakini sebagai bagian dari ritual agama, dianggap
memiliki kekuatan magis. Lukisan tsb banyak ditemukan di gua Leang-Leang,
Sulawesi Selatan. Cap jari tangan warna merah diperkirakan sebagai simbol
kekuatan dan perlindungan dati roh-roh jahat, sementara cap tangan jadi jarinya
tidak lengkap diperkirakan merupakan ungkapan duka atau berkabung.
3. Zaman Neolitikum (Zaman Batu Baru/
Batu Muda) – Masa bercocok tanam

Sumber:
hariansejarah.id
Kehidupan manusia pada zaman ini sudah mulai menetap,
tidak berpindah-pindah. Jenis manusia yang hidup pada pada zaman ini yaitu Homo
Sapiens ras Mongoloide dan Austromelanosoide. Mereka juga sudah mengenal
bercocok tanam, namun masih melakukan perburuan. Mereka juga sudah dapat
menghasilkan bahan makanan sendiri (food producing).
Hasil budaya peninggalan pada zaman ini pembuatannya sudah lebih sempurna,
lebih halus dan disesuaikan dengan fungsinya. Alat-alat pada masa ini banyak
digunakan untuk pertanian dan perkebunan. Hasil kebudayaan yang terkenal
yaitu:
– Kapak Lonjong: alat dari batu yang diasah berbentuk
lonjong seperti bulat telur. Diperkirakan digunakan dalam menebang pohon.
Peninggalan ini banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, seperti Minahasa
dan Papua.
– Kapak Persegi: berbentuk persegi panjang atau
trapesium, mirip dengan cangkul, digunakan untuk kegiatan persawahan.
Ukuran besar sering disebut beliung atau pacul, yang berukuran kecil disebut
tarah (tatah) dan digunakan untuk mengerjakan kayu. Persebarannya di daerah
Indonesia bagian barat, seperti Sumatera, Jawa, dan Bali.
Ada pula peninggalan lainnya, yaitu:
– Mata panah dan mata tombak: terbuat dari batu yang
diasah seara halus untuk kepentingan berburu, ditemukan di Jawa Timur dan
Sulawesi Selatan
– Perhiasan seperti gelang-gelang dari batu indah:
banyak ditemukan di wilayah Jawa.
– Alat pemukul kulit kayu
– Pakaian dari kulit kayu: Pada zaman tersebut sudah
dikenal adanya pakaian, dibuktikan dengan penemuan alat pemukul kulit kayu yang
dijadikan sebagai bahan pakaian.
– Tembikar (periuk belanga): banyak ditemukan
pecahan-pecahannya di Sumatra. Di Melolo, Sumba banyak ditemukan periuk belanga
yang berisi tulang-tulang manusia.
4. Zaman Megalitikum (Zaman Batu Besar)

Sumber: pinterest.com
Kebudayaan ini diperkirakan berkembang dari zaman
neolitikum sampai zaman perunggu. Manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan
kebudayaan menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar. Mereka telah membuat
berbagai macam bangunan batu untuk kepentingan upacara keagamaan dan mengubur
jenazah. Manusia pendukung pada zaman ini didominasi oleh Homo Sapiens.
Menurut Von Heine Geldren, kebudayaan megalitikum
menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang. Pertama adalah Megalitikum Tua
(2500-1500 SM) yang menyebar ke Indonesia pada zaman neolitikum dibawa oleh
pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum
adalah menhir, punden berundak-undak, arca-arca statis. Sedangakan
masa Megalitikum Muda (1000-10 SM), menyebar pada zaman perunggu dibawa
oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya
adalah peti kubur batu, dolmen, waruga , sarkofagus dan arca-arca dinamis.
Hasil kebudayaan zaman megalitikum:
– Menhir: tiang atau tugu batu untuk pemujaan dan peringatan
akan roh nenek moyang. Menhir banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Kalimantan,
dan Sulawesi Tengah.
– Punden berundak: bangunan yang tersusun bertingkat,
berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang. Punden berundak bertingkat
tiga yang memiliki makna tersendiri. Tingkat pertama melambangkan kehidupan
saat masih dikandungan ibu, tingkat kedua melambangkan kehidupan didunia dan
tingkat ketiga melambangkan kehidupan setelah meninggal. Punden berundak
ditemukan di daerah Lebak Sibedug, Banten Selatan.
–
Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk persembahan pada roh nenek
moyang. Dolmen yang merupakan tempat pemujaan ditemukan di Telagamukmin,
Sumberjaya, Lampung Barat. Di bawah dolmen sering ditemukan kubur batu untuk
meletakkan mayat.
–
Sarkofagus: peti kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup, pada
ujung-ujungnya terdapat tonjolan. Sarkofagus memiliki jenis bentuk dan ornamen
yang berbeda. Di dalamnya ditemukan tulang-tulang manusia dan bekal kubur
berupa periuk, beliung persegi, perhiasan dari perunggu dan besi. Sarkofagus
banyak ditemukan di daerah Bali.
–
Kubur batu: peti mati yang dibentuk dari 6 papan batu. Paling banyak ditemukan
di daerah Sumba dan Minahasa.
–
Waruga: Kubur batu khas Minahasa, kebanyakan berupa kotak batu dengan tutup
berbentuk segitiga mirip bangunan rumah sederhana.
–
Arca batu: patung-patung dari batu berbentuk binatang atau manusia. Bentuk
binatang yang digambarkan yaitu gajah, kerbau, harimau dan monyet. Daerah
penemuannya yaitu di Pasemah (Sumatera Selatan), Lampung, Jawa Tengah, Jawa
Timur.
ZAMAN LOGAM
Zaman logam disebut juga sebagai zaman perundagian
karena di masyarakat timbul golongan undagi yang terampil dalam melakukan
pekerjaan tangan. Pada zaman ini, manusia purba sudah mulai mengenal teknologi
dan pertukangan dengan membuat peralatan yang sesuai dengan kebutuhan hidup.
Manusia sudah mulai membuat alat dari logam seperti perunggu dan besi.
Ada 2 teknik pembuatan alat logam, yaitu dengan
cetakan batu (bivalve) dan dengan cetakan tanak liat dan lilin (a
cire perdue). Zaman logam dibagi menjadi 3 zaman yaitu zaman tembaga,
zaman perunggu, dan zaman besi, namun zaman tembaga tidak terjadi di
Indonesia.

1. Zaman Tembaga
Zaman tembaga merupakan awal manusia
mengenal logam. Tembaga digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat peralatan.
Indonesia diperkirakan tidak terpengaruh dengan zaman tembaga karena sampai
sekarang belum ada ditemukan peninggalan sejarah dari zaman tembaga di
Indonesia.
2. Zaman Perunggu
Pada zaman ini, manusia membuat alat dengan bahan
dasar perunggu. Peninggalan sejarah dari zaman perunggu di Indonesia, anatara
lain:
– Candrasa: sejenis senjata, ditemukan di Bandung dan
diperkirakan digunakan untuk keperluan upacara.
– Kapak
Corong (Kapak Sepatu): alat kebesaran dan upacara adat yang berbentuk seperti
corong, ditemukan di Bali, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
– Nekara:
Genderang besar atau tambur yang berbentuk seperti dandang terbalik, digunakan
untuk upacara ritual, khususnya sebagai pengiring upacara kematian, upacara
memanggil hujan, dan sebagai genderang perang. Daerah penemuannya yaitu di
wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Pulau Roti, Selayar, dan Kepulauan Kei.
Nekara “The Moon of Pejeng” yang merupakan nekara terbesar di Indonesia
terdapat di Bali.

nekara perunggu (materi4belajar.com)
– Moko:
sejenis nekara yang ukurannya lebih kecil, berfungsi sebagai benda pusaka
seorang kepala suku, benda yang diwariskan kepada anak laki-laki kepala suku
dan juga mas kawin. Moko lebih banyak ditemukan di Pulau Alor dan Manggarai (
Pulau Flores).
– Bejana
Perunggu: memiliki bentuk seperti periuk namun langsing dan gepeng. Di
Indonesia, bejana perunggu ditemukan di tepi Danau Kerinci (Sumatera) dan
Madura. Kedua bejana yang sudah ditemukan memiliki hiasan yang serupa dan
sangat indah berupa gambar – gambar geometri dan pilin – pilin yang mirip huruf
J.
– Arca
Perunggu: ada yang berbentuk manusia dan ada juga yang berbentuk binatang.
Umumnya kecil dan terdapat cincin pada bagian atasnya. Cincin tersebut
digunakan untuk menggantungkan arca itu karena arca tersebut juga digunakan
sebagai liontin. Arca perunggu ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang
(Sulawesi Selatan), dan Limbangan (Bogor).Dari benda-benda peninggalan di
atas, peninggalan yang paling terkenal adalah kapak corong. Selain itu
ditemukan juga benda-benda perhiasan seperti kalung, cincin, anting-anting, dan
manik-manik.
penjelasan yang sangat jelas
BalasHapusManusia purba memiliki ukuran otak 1200 sampai 1400 sentimeter kubik, yang melebihi rentang pada manusia modern. Manusia purba dibedakan dari manusia modern anatomis dari tengkoraknya yang tebal, tonjolan bubung alis dan tidak menonjolnya dagu.ternyata manusia purba gak sama seperti manusia sekarang bisa dilihat dari tengkorang manusia dan manusia purba
BalasHapusBedanya manusia dan manusia purba
BalasHapus